Hidup ‘pas-pasan’ memang bisa bermakna
ganda. Bisa saja berarti penghasilan hanya
pas untuk makan, atau bisa juga berarti
penghasilan bisa pas saat mewujudkan sebuah
keinginan. Misalkan, pas ketika ingin mobil ya bisa
beli mobil, pas ingin haji ya bisa naik haji. Ya, kedua
versi tersebut telah dijalani oleh Pak Dono Sapari.
Hidup pas-pasan versi pertama telah Pak Dono
jalani sejak ia lahir hingga tahun 2010. Setelah gagal
menamatkan bangku SMA karena alasan finansial,
kerasnya kehidupan harus segera dia rasakan.
“Berbagai jenis pekerjaan telah saya jalani dengan
penghasilan yang tak seberapa, saya juga sempat
merantau ke Jakarta jadi kuli bangunan, sempat juga
berkeliling Jawa Tengah dan Jogja jadi pengantar
pedagang sayur,” kisah pria kelahiran Boyolali
37 tahun ini. Bosan dengan pekerjaan yang tak
kunjung mengangkat ekonomi keluarganya, tepat
di tahun 2002 ia lantas kembali ke kampung untuk
mengadu nasib dengan menjadi perangkat desa.
Nasibnya tak kunjung berubah, bahkan ia berulang
kali harus berurusan dengan debt collector karena
menunggak cicilan motor.
Hidup pas-pasan versi kedua ala pak Dono dijalani
selepas ia bergabung dengan NASA di tahun 2011.
Roda nasib yang selama ini enggan berputar naik pun
kini bergerak. Diakuinya, kesibukan awal bergabung
di NASA cukup menghambat pekerjaannya sebagai
perangkat desa, namun saat ini justru sebaliknya.
“Dulu NASA mengganggu kerjaan kantor saya,
sekarang kantor mengganggu kerjaan NASA saya”,
ujarnya senang.
Kini dengan penghasilan yang jauh berlipat dari
penghasilannya sebagai perangkat desa, agaknya
Pak Dono sudah bisa merasakan hidup pas-pasan
dalam versi yang menyenangkan. Terbukti dengan
penghasilannya yang pas untuk membeli tiga motor
dan satu mobil baru. Hal yang tak mungkin dia
capai sebelum bergabung di NASA. “Siapa takut
hidup pas-pasan kalau hidupnya ala saya”, tutupnya
sambil tersenyum.
